1. Asal-usul dan tradisi kebangsawanan
Tercatat dalam manuscript kraton Sembilangan Madura bahwa Raden Ndoel Karim berasal dari lingkungan bangsawan Madura. perjalanan hidup Ndoel Karim dimulai sebagai seorang bangsawan muda yang kemudian masuk dalam jaringan politik kolonial Inggris. Dalam arsip Inggris tahun 1824, keluarganya menyebut leluhur mereka sebagai Panembahan Abdool Charim di Ningrat, seorang tokoh yang meninggalkan Madura pada masa tekanan politik kolonial Belanda dan kemudian membangun hubungan dengan Inggris di Bengkulu. Migrasi keluarga ini bukan sekadar perpindahan penduduk, tetapi bagian dari pola hubungan antara elite Madura dengan kekuatan kolonial Inggris yang membutuhkan tenaga militer dan administratif pribumi.
Menurut petisi tanggal 6 Oktober 1824, Doel Karim merupakan cucu Cakraningrat IV (Panambahan Abdool Charim diningrat), Tokoh in meninggalkan Madura setelah penaklukan Belanda tahun 1745 dan mencari perlindungan kepada Inggris di Bengkulu. Diperkirakan ketika meninggalkan Kraton Sembilangan di Madura akibat kekalahan tekanan politik Belanda, Abdul Karim berumur diawal belasan tahun. Ia menyusul ayahnya ke Bengkulu dan mencari perlindungan dibawah inggris.
2. Karier dalam pemerintahan Inggris di Bengkulu
Di Bengkulu, keluarga Ndoel Karim masuk ke dalam struktur East India Company. Ndoel Karim tercatat sebagai Ambtenar (Tentara Inggris). Anggota Bugis Corps, pegawai militer pribumi Inggris dan mulai berdinas sekitar 1794 bersama Raden Muhammad. Mereka bukan tentara sewaan biasa, melainkan bagian dari kelompok elite pribumi yang memperoleh kedudukan, penghasilan, dan penghormatan dari pemerintah Inggris. Ia adalah anggota Bugis Corps, yaitu pasukan pribumi yang dibentuk East India Company untuk mempertahankan Bengkulu. Korps ini terdiri dari berbagai etnis: Bugis, Melayu dan Madura. Sebagian keturunan lokal Keluarga Doel Karim telah memegang jabatan perwira selama dua generasi.
Tiga orang yang berasal dari Madura yang menjabat perwira adalah Raden Mira diningrat sebagai Kapten Korps Bugis mulai bertugas tahun 1774, Raden Muhammad mulai bertugas tahun 1794 dan pernah terluka dalam Perang Lahong di bawah Kolonel Clayton, Raden Abdul Karim (Doel Karim) mulai bertugas tahun 1794, Abdul Karim ini tidak mengalami luka perang, tetapi memiliki masa dinas yang sama dengan R. Mahomad.
3. Kehidupan sosial dan ekonomi di Bengkulu
Selama puluhan tahun berada di Bengkulu, keluarga ini membangun kehidupan ekonomi, memiliki rumah; memiliki kebun atau tanah usaha; memiliki kedudukan sosial di lingkungan kolonial Inggris.
Hubungan mereka dengan Inggris bersifat jangka panjang. Karena itu ketika Inggris meninggalkan Bengkulu, mereka tidak melihat peristiwa tersebut hanya sebagai pergantian penguasa, tetapi sebagai hilangnya pelindung politik dan ekonomi keluarga mereka.
Traktat London 1824 menyebabkan pertukaran wilayah Inggris–Belanda, Inggris menyerahkan Bengkulu kepada Belanda sedangkan Belanda menyerahkan Malaka kepada Inggris.
Ketika mendengar Bengkulu akan diserahkan kepada Belanda, Doel Karim menulis petisi pada 18 Oktober 1824 bahwa keluarganya hanya hidup dari pemerintah Inggris, bila Inggris pindah, mereka ingin ikut, rumah dan perkebunan mereka harus diganti, mereka meminta pensiun sesuai masa dinas. Ini merupakan salah satu bukti paling awal bahwa elit pribumi Bengkulu tidak menerima begitu saja isi Traktat London.

