Kamis, 12 Februari 2026

ARIO MENAK SENOYO

 

ARIO MENAK SENOJO

Dari tanah Palembang yang makmur, berdiri seorang bangsawan agung bernama Ario Damar. Beliau adalah sosok pemimpin yang bukan hanya berpengaruh di Sumatera, melainkan juga menjadi mata rantai penting bagi lahirnya kerajaan-kerajaan di seberang lautan. Dari rahim keturunannya, lahirlah putra-putra yang kelak mewarnai perjalanan sejarah Nusantara, masing-masing membawa takdir dan perannya sendiri.

Salah satu putra beliau adalah Ario Menak Senoyo, yang pada tahun 1427 berangkat menuju Madura atas titah sang ayah. Membawa bingkisan persaudaraan kepada Ki Moko atau Ki Lanceng di Danka, ia akhirnya menetap di Jambringin, Pamekasan, dan mendirikan sebuah keratuan di sana. Diceritakan didalam sejarah Bali bahwa Ki Lanceng ini bernama Ario Delanceng yang dikemudian ikut Ario Damar berperang ke Bali. Ario Menak Senojo ini kemudain menikah dengan Sri Tanjung Wiruwulan, seorang putri nan jelita, lahirlah keturunan yang kelak menurunkan Ario Timbul, Ario Kedut, dan Ario Pucuk. Dari garis inilah berdiri pondasi awal kebangsawanan Madura yang akan berkembang menjadi dinasti besar.

Namun, bukan hanya Madura yang menerima jejak darah biru Ario Damar. Tiga putra lainnya juga menorehkan kiprah di Pulau Bali:

  • Ario Belog,
  • Ario Kenceng, dan
  • Ario Delanceng.

Mereka membawa semangat kepemimpinan leluhur Palembang ke tanah Dewata, ikut memperkuat tatanan kerajaan-kerajaan Bali pada masa itu.

Dengan demikian, jelaslah bahwa Ario Damar di Palembang bukan hanya tokoh lokal, melainkan sumber mata air sejarah yang alirannya menyebar ke berbagai pulau. Dari Palembang ke Madura, ke Bali, terbentuklah jaringan kebangsawanan yang mempertautkan nusantara.

Pada tahun 1427, atas titah agung dari Raja Palembang, berlayarlah Ario Menak Senoyo menuju tanah Madura. Beliau datang ke Dangka membawa bingkisan persahabatan, sebagai utusan yang memikul amanah besar dari Ramandanya. Kedatangannya disambut penuh hormat oleh Ki Moko—atau yang dikenal pula sebagai Ki Lanceng, seorang tokoh berpengaruh di tanah Madura kala itu.

Atas permintaan Ki Moko, Ario Menak Senoyo kemudian berkenan menetap di Jambringin. Dengan bantuan Ki Moko pula, beliau mendirikan Kraton sebagai pusat pemerintahan dan simbol kebesaran. Di sana, takdir mempertemukannya dengan seorang putri jelita bernama Sri Tanjung Wiruwulan, yang keelokannya digambarkan laksana bidadari kahyangan. Dari pernikahan agung itu, lahirlah keturunan yang kelak menjadi cikal bakal silsilah besar di Madura.

Putra pertama, Ario Timbul, menggantikan ayahandanya memimpin Jambringin. Sementara itu, putra kedua, Ario Kedut, memilih merantau hingga ke tanah Bali, menyebarkan pengaruh darah bangsawan Madura di sana. Sedangkan putra ketiga, Ario Pucuk, mempersunting Nyai Ageng Budho dan akhirnya menggantikan mertuanya sebagai Kamituwa di Madeggan, meneruskan garis kepemimpinan dengan wibawa.

Demikianlah jejak awal Ario Menak Senoyo, yang hadir bukan hanya sebagai utusan, tetapi juga sebagai pembuka jalan bagi terjalinnya ikatan darah, budaya, dan peradaban antara Madura dan wilayah sekitarnya. Dari sinilah, berdiri kokoh fondasi yang kelak menorehkan babad panjang sejarah Madura.

Dari pernikahan agung Ario Pucuk dengan Nyai Ageng Budho, lahirlah garis keturunan yang kelak menjadi sendi penting dalam sejarah pemerintahan di Madura. Ario Pucuk, yang menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Kamituwa Madeggan, bukan sekadar pemimpin wilayah, melainkan juga penjaga adat dan penata tatanan kehidupan masyarakat.

Karisma Ario Pucuk berpadu dengan kebijaksanaan Nyai Ageng Budho, menjadikan keduanya dihormati sebagai pasangan bangsawan yang berwibawa. Dari rahim Nyai Ageng Budho, lahir putra-putra yang kemudian menurunkan silsilah besar para penguasa Madura. Mereka bukan hanya mewarisi darah biru, tetapi juga jiwa kepemimpinan, kecakapan diplomasi, dan semangat menjaga marwah tanah leluhur.

Dari garis inilah kelak mengalir keturunan yang melahirkan tokoh-tokoh besar Madura, termasuk penguasa yang disegani di Bangkalan, Sampang, hingga Sumenep. Sejarah mencatat bahwa Ario Pucuk menjadi simpul penyambung antara masa awal pemerintahan lokal di Madura dengan lahirnya kerajaan-kerajaan Madura yang lebih besar di kemudian hari.

Dengan demikian, apa yang bermula dari langkah Ario Menak Senoyo di tahun 1427, dilanjutkan oleh Ario Timbul, Ario Kedut, dan terutama Ario Pucuk, telah menjadi mata rantai emas yang tak pernah terputus. Dari generasi ke generasi, darah biru itu terus mengalir, mewarnai perjalanan panjang Madura hingga masa kejayaan Cakraningrat di kemudian hari.









Source : Riwayat Dinasti Madura, Perjalanan Arya Damar dan Arya Kenceng di Bali.

Sabtu, 07 Februari 2026

Jejak Pangeran Cakraningrat IV - Sambilangan

  


 
Jejak Pangeran Cakraningrat IV

Jejak Pangeran Cakraningrat IV pada pertengahan abad ke-18 merupakan salah satu episode paling dramatis dalam sejarah Madura dan hubungan kekuasaan Nusantara dengan bangsa Eropa. Informasi ini terekam dalam dokumen sidang di Batavia tanggal 26–27 Juli 1746, khususnya pada tanya jawab nomor 42 hingga 51, yang merinci perjalanan, harta, hingga penangkapan beliau secara terperinci.

Rombongan Pangeran Cakraningrat IV menyeberang menggunakan beberapa kapal dan perahu. Di antara armada tersebut terdapat sebuah kapal tipe Chialoup milik EIC (English East India Company)—sebuah petunjuk kuat bahwa pelarian ini telah terhubung dengan jaringan Inggris. Bersama beliau turut dibawa kekayaan dalam jumlah luar biasa: 70.000 mat Spanyol, 1 pikul emas (setara 60,5 kg), setengah pikul perak, berlian hijau, lima berlian besar, seribu giwang berlian milik sang puteri, enam cincin (tiga di antaranya bertahtakan berlian), emas para istri, perhiasan, uang, permata, peti pakaian mewah, kantong obat milik istri-istri beliau, dua tempat tidur bayi, dua liontin milik istri (satu bertahtakan berlian), bahkan emas senilai 400 real. Di tengah rombongan yang sarat kemewahan itu, terdapat pula sesuatu yang unik: 25 anak kucing turut dibawa dalam perjalanan panjang tersebut.

Pelarian dimulai dengan rute pertama menuju Bawean. Dari sana, rombongan bergerak ke rute kedua: Bawean menuju Sungai Bentaw, wilayah yang telah berada di bawah Kesultanan Banjar. Kedatangan mereka disambut langsung oleh utusan Sultan Banjar dengan sebuah tanda penghormatan sekaligus penerimaan politik. Rute ketiga berlanjut dari Sungai Bentaw ke Sungai Banjar hingga tiba di Kota Banjar. Kapal Chialoup Inggris ditinggalkan di sungai itu, sementara rombongan Pangeran langsung menuju istana Banjar.

Namun ketenangan itu hanya berlangsung singkat. Enam atau tujuh hari setelah beliau tiba di Banjar, sebuah kapal perang VOC tipe Brigantin datang menyusul. Orang-orang Belanda segera menghubungi gezaghebber setempat dan Sultan Banjar untuk meminta agar Pangeran diserahkan kepada VOC. Bahkan upaya suap sebesar 2.000 mat Spanyol dilayangkan kepada gezaghebber, namun ditolak tegas. Sultan Banjar pun menolak permintaan tersebut dan memerintahkan Brigantin VOC untuk berlayar kembali ke Batavia.

Penolakan itu dibalas dengan kekerasan. Brigantin VOC melancarkan serangan ganas ke Sungai Banjar dengan tembakan meriam. Dalam situasi genting, rombongan Pangeran sempat direncanakan untuk diungsikan ke pegunungan Banjar. Namun Pangeran Cakraningrat IV memilih jalur laut yang kemungkinan untuk melakukan konsolidasi dengan pihak Inggris atau dengan puteranya yang berada di Bengkulu. Rombongan beliau pun dipindahkan dan dilindungi di kapal Inggris terbaik saat itu, sebuah kapal East Indiaman bernama Onslow.

Onslow adalah kapal besar dagang bersenjata milik EIC yang aktif antara tahun 1734 hingga 1748, dipimpin oleh Colonel William Congreve (1699–1779), seorang perwira angkatan laut Inggris yang telah kehilangan tangan kirinya dalam sebuah pertempuran. Kapal inilah yang menjadi perlindungan terakhir Pangeran di Banjarmasin.

Namun perlindungan itu kembali ditembus VOC. Empat hingga lima hari setelah rombongan berlindung di Onslow, Brigantin VOC melancarkan serangan langsung ke kapal Inggris tersebut. Dalam baku tembak yang terjadi, salah satu istri Pangeran tertembak senapan. Pertempuran itu berakhir tragis: rombongan Pangeran Cakraningrat IV berhasil ditangkap dan dibawa paksa oleh kapal Brigantin VOC. Kapten Onslow, William Congreve, turut terluka dan sempat ditangkap oleh pihak Belanda dalam aksi penculikan yang melanggar kehormatan diplomatik tersebut.

Peristiwa ini bukan hanya menggambarkan pelarian seorang bangsawan Madura, tetapi juga memperlihatkan benturan kepentingan antara VOC, Kesultanan Banjar, dan EIC—sebuah drama geopolitik yang menjadikan Sungai Banjar dan kapal Onslow sebagai saksi bisu dari runtuhnya perlindungan terakhir Pangeran Cakraningrat IV.

 

 

 

 

 

 

Source   : Riwayat Madura