Sabtu, 11 Juli 2026

SEMBILANGAN - ABDUL KARIM - Biografi, Prosopografi dan Historiografi

 

Raden Abdul Karim Sembilangan

(± Akhir abad ke-18 – abad ke-19)

 

1.      Identitas Asal-usul keluarga

Nama dalam arsip       : Raden Karim / Doel Karim / Abdul Karim

Bangsawan Madura    : Raden

Perwira Korps             : Bugis Corps di Bengkulu

Pegawai                       : East India Company

Nama                          : Abdul Karim

Gelar Lahir                 : Raden

Gelar Pangkat             : Raden Tumenggung

Nama Istri                   : M. Ay. Aisyah

Nama Ayah                 : Raden Tumenggung Wiroadiningrat

Jabatan                        : Perwira Korps Bugis oleh Pemerintah Inggris

Nama Ibu                    : Siti Djuriyah

Jumlah Saudara           : 12 (Dua Belas)

Jumlah Anak               : 10 (Sepuluh)

Nama-nama Saudara   :

1.      R. Mohammad Zein Perbangsa.

2.      R. T. Abdul Karim

3.      R. Ayu Boengsoe. - kawin dengan putera dari Raja Bugis bernama Daeng Magiriah.

4.      R. Ario Wiroadiningrat ( Abdul Rahman).

5.      R. Setomo (R. Demang Soeratama), ibunya bernama Siti Karimah.

6.      R.T. Aria Djanaka (R. Nakaningrat),

7.      R. Ayu Rasmi

8.      R. Tawang Alun

9.      R. Ayu Saradjati ( Ratu Anom), Beliau kawin dengan putera dari Raja Bugis.

10.   R. Wirio

11.   R. Prakongso.

12.    R. Santara

Nama-nama Anak       :

1.     R. Ajeng Zainab (Meninggal Kecil)

2.     R. Ay. Maimuna Menikah dengan Prabu Anom – Hoofd Jaksa.

3.     R. Ay. Nurati - menikah dengan Raja Mahkota Alam dan tidak menurunkan anak.

4.     R. Ajeng Tirus – Meninggal Kecil

5.     R. Ay. Sarwati, menikah dengan Toyib di Madura – Tidak memiliki Keturunan.

6.     R. Ay. Sekarwati Menikah dengan R. Carang Kusuma

7.     R. Ajeng Husna – Meninggal Kecil

8.     R. Aj. Jaidah  -  Meninggal Muda tanpa anak

9.     R. M. Khatim, Memiliki Banyak Istri.

10.  R. M. Amir, Beliau menjadi gezaghebber dari Tahun 1836 sampai pensiun tahun 1854 (Tidak Berketurunan).

 

Senin, 02 Maret 2026

LEMBU PETTENG

 

ARIO LEMBU PETTENG

Pada tahun 1391, di tanah Madeggan Sampang, berdirilah seorang bangsawan perkasa bernama Ario Lembu Peteng. Beliau ditempatkan sebagai Patih Mandiri, atau dikenal pula dengan sebutan Rangga atau Kamituwo, pemegang kendali atas Pamadeggan. Ibundanya adalah Ratu Dwarawati, seorang permaisuri agung yang wafat pada tahun 1448.

Ario Lembu Peteng tercatat sebagai salah satu tokoh penting yang menjembatani masa peralihan kekuasaan lama menuju babak baru sejarah Madura. Di penghujung hayatnya, beliau singgah ke Ampel, tempat kediaman Sunan Ampel, wali agung penyebar Islam di Jawa. Di sanalah beliau memeluk agama Islam dengan bimbingan sang Sunan, hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di sana—sebuah penanda bahwa darah bangsawan Madura pun ikut tersentuh cahaya Islam.

Dari garis keturunannya, lahirlah tiga putra-putri utama:

  1. Ario Menger,
  2. Ario Mengo, dan
  3. Retno Dewi, yang menikah dengan Sunan Dalem (Maulana Agung) dan kemudian menetap di Giri Kedaton, pusat kebesaran Islam di Gresik.

Dari ketiga keturunan itu, nama Ario Menger tampil sebagai penerus pemerintahan Pamadeggan menggantikan ayahandanya. Dari dialah kemudian lahir generasi yang mengokohkan fondasi Islam dan pemerintahan di tanah Sampang.

Putra-putranya antara lain:

  • Ario Langgar, yang berikrar masuk Islam dan mendirikan sebuah langgar di Madeggan—yang kelak menjadi masjid tertua di Sampang, simbol awal tumbuhnya syiar Islam di tanah Madura.
  • Ario Panengah, yang memilih bermukim di Rangantang, membawa pengaruh kebangsawanan ke wilayah itu.
  • Ario Pratikel, yang bermukim di Pulau Mandangil (Pulau Kambing), menjaga dan mengatur kehidupan masyarakat di pulau kecil tersebut.

Dengan demikian, dari Ario Lembu Peteng mengalir dua warisan besar: kebangsawanan dan keislaman. Satu sisi beliau teguh sebagai penguasa Madeggan sejak 1391, dan di sisi lain, wafatnya di Ampel serta masuk Islamnya para keturunannya menjadi tonggak penting yang mempertautkan Madura dengan pusat-pusat penyebaran Islam di Jawa.

Perjalanan hidupnya tidak berhenti pada urusan duniawi semata. Di masa tuanya, Lembu Peteng menempuh jalan spiritual yang mengubah arah sejarah. Ia mendatangi pusat dakwah di Ampel, Surabaya, dan berguru langsung kepada Sunan Ampel, salah satu Wali Songo. Di bawah bimbingan sang wali, ia akhirnya memeluk agama Islam—sebuah keputusan yang bukan hanya menyentuh dirinya secara pribadi, tetapi juga memberi warna baru bagi garis keturunannya dan masyarakat Madura pada umumnya.

Tak lama setelah itu, Ario Lembu Peteng wafat di Ampel. Beliau dimakamkan di kawasan dakwah Sunan Ampel, sehingga jejak kehidupannya terpatri dalam dua dunia: sebagai pelopor pemerintahan di tanah Madura, dan sebagai tokoh yang turut membuka jalan Islamisasi di kawasan tersebut.

Dari sinilah, nama Ario Lembu Peteng dikenang bukan hanya sebagai seorang bangsawan, tetapi juga sebagai penghubung antara tradisi kebangsawanan lama dan cahaya Islam yang mulai menyinari Madura.

Jejak Ario Lembu Peteng dan anak-cucunya adalah bukti bahwa sejak abad ke-14, Madura telah menjadi tanah yang terbuka bagi persilangan budaya, politik, dan agama, hingga akhirnya melahirkan dinasti-dinasti besar yang mewarnai perjalanan sejarah Nusantara.