Raden Muhammad Zen, bergelar Raden Arya Suryadiningrat, lahir pada tahun 1771 M, pada masa ketika Bangkahulu berada di bawah perlindungan Kompeni Inggris. Masa hidupnya berlangsung dalam periode transisi politik kolonial yang penting di pantai barat Sumatra, dari dominasi Inggris menuju kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda. Ia wafat pada tahun 1853 M, saat Bangkahulu sepenuhnya berada di bawah administrasi Belanda, menandai akhir pengabdian seorang elite lokal yang memainkan peran strategis dalam dua rezim kolonial berbeda.
Pada tahun 1812, Raden Muhammad Zen melakukan perjalanan ke Madura, tepatnya ke Sembilangan, untuk berziarah sekaligus menjalin kembali silaturahmi dengan seluruh kaum familinya. Perjalanan ini memiliki makna genealogis dan politis yang penting. Pada saat itu ia telah berpangkat opsir militer, dan dari Sembilangan ia membawa pulang sejumlah manuskrip silsilah keturunan Raja-raja Madura. Manuskrip tersebut kemudian menjadi rujukan utama asal-usul keturunan Raden di Bangkahulu, serta berfungsi sebagai legitimasi sosial dan simbol kesinambungan status kebangsawanan di wilayah tersebut.
Pada tahun 1818, Raden Muhammad Zen diangkat sebagai opsir Bugis Bompang oleh Pemerintahan Inggris. Dalam periode yang sama, ia dipindahkan ke Lais dan dipercaya menjabat sebagai wakil Kompeni di Afdeling Lais, sekaligus bertindak sebagai Hoofd di Lais pada masa pemerintahan Inggris. Jabatan ini menempatkannya sebagai perantara penting antara otoritas kolonial dan struktur kekuasaan lokal, suatu posisi yang lazim diberikan kepada elite pribumi yang dianggap loyal dan memiliki pengaruh sosial yang kuat.
Perubahan mendasar terjadi pada tahun 1825, ketika wilayah Bangkahulu diserahkan oleh Inggris kepada Pemerintahan Belanda. Setahun kemudian, yakni pada tahun 1826, dikeluarkan besluit dari Pemerintahan Belanda yang menetapkan Raden Muhammad Zen sebagai wakil tuan besar untuk memerintah di Afdeling Lais. Dalam keputusan tersebut ditegaskan bahwa seluruh penduduk negeri wajib memberikan penghormatan kepadanya sebagaimana tata kehormatan yang berlaku pada masa Inggris. Pada masa ini pula diberlakukan berbagai aturan pertanian dan sistem tanam, yang mencerminkan penyesuaian kebijakan kolonial Belanda terhadap struktur pemerintahan lokal yang telah terbentuk sebelumnya.
Puncak karier administratif dan militernya dicapai pada tahun 1835, ketika Raden Muhammad Zen diangkat sebagai Kapten Handrabel dari seluruh militer di dalam Residen Bangkahulu, serta menjabat sebagai Hoofd Fermendilingen di Bangkahulu, menggantikan Tuan Daeng Mabela. Dalam kedudukannya tersebut, ia mendirikan pusat kekuasaan yang dikenal sebagai Istana Karang Kunsan, yang kemudian berganti nama menjadi Istana Kembang Melur. Istana ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai simbol otoritas, pusat administrasi, dan representasi peran elite lokal dalam sistem pemerintahan kolonial.
Pada tahun 1853, Raden Muhammad Zen wafat di Istana Kembang Melur, dalam masa menjalankan tugas pemerintahan. Dengan wafatnya tokoh ini, berakhir pula perjalanan hidup seorang bangsawan dan pejabat kolonial yang berperan penting dalam sejarah Bangkahulu, khususnya dalam proses transisi kekuasaan dari Inggris ke Belanda, serta dalam pembentukan tradisi genealogis dan struktur elite lokal yang pengaruhnya bertahan hingga generasi berikutnya,
Source :Manuscript Sembilangan




