ARIO
MENAK SENOJO
Dari
tanah Palembang yang makmur, berdiri seorang bangsawan agung bernama Ario
Damar. Beliau adalah sosok pemimpin yang bukan hanya berpengaruh di Sumatera,
melainkan juga menjadi mata rantai penting bagi lahirnya kerajaan-kerajaan di
seberang lautan. Dari rahim keturunannya, lahirlah putra-putra yang kelak
mewarnai perjalanan sejarah Nusantara, masing-masing membawa takdir dan
perannya sendiri.
Salah
satu putra beliau adalah Ario Menak Senoyo, yang pada tahun 1427 berangkat
menuju Madura atas titah sang ayah. Membawa bingkisan persaudaraan kepada Ki
Moko atau Ki Lanceng di Danka, ia akhirnya menetap di Jambringin, Pamekasan,
dan mendirikan sebuah keratuan di sana. Diceritakan didalam sejarah Bali bahwa
Ki Lanceng ini bernama Ario Delanceng yang dikemudian ikut Ario Damar berperang
ke Bali. Ario Menak Senojo ini kemudain menikah dengan Sri Tanjung Wiruwulan,
seorang putri nan jelita, lahirlah keturunan yang kelak menurunkan Ario Timbul,
Ario Kedut, dan Ario Pucuk. Dari garis inilah berdiri pondasi awal
kebangsawanan Madura yang akan berkembang menjadi dinasti besar.
Namun, bukan hanya Madura yang menerima
jejak darah biru Ario Damar. Tiga putra lainnya juga menorehkan kiprah di Pulau
Bali:
- Ario
Belog,
- Ario
Kenceng, dan
- Ario
Delanceng.
Mereka
membawa semangat kepemimpinan leluhur Palembang ke tanah Dewata, ikut
memperkuat tatanan kerajaan-kerajaan Bali pada masa itu.
Dengan
demikian, jelaslah bahwa Ario Damar di Palembang bukan hanya tokoh lokal,
melainkan sumber mata air sejarah yang alirannya menyebar ke berbagai pulau.
Dari Palembang ke Madura, ke Bali, terbentuklah jaringan kebangsawanan yang
mempertautkan nusantara.
Pada
tahun 1427, atas titah agung dari Raja Palembang, berlayarlah Ario Menak Senoyo
menuju tanah Madura. Beliau datang ke Dangka membawa bingkisan persahabatan,
sebagai utusan yang memikul amanah besar dari Ramandanya. Kedatangannya
disambut penuh hormat oleh Ki Moko—atau yang dikenal pula sebagai Ki Lanceng,
seorang tokoh berpengaruh di tanah Madura kala itu.
Atas
permintaan Ki Moko, Ario Menak Senoyo kemudian berkenan menetap di Jambringin.
Dengan bantuan Ki Moko pula, beliau mendirikan Kraton sebagai pusat
pemerintahan dan simbol kebesaran. Di sana, takdir mempertemukannya dengan
seorang putri jelita bernama Sri Tanjung Wiruwulan, yang keelokannya
digambarkan laksana bidadari kahyangan. Dari pernikahan agung itu, lahirlah
keturunan yang kelak menjadi cikal bakal silsilah besar di Madura.
Putra
pertama, Ario Timbul, menggantikan ayahandanya memimpin Jambringin. Sementara
itu, putra kedua, Ario Kedut, memilih merantau hingga ke tanah Bali,
menyebarkan pengaruh darah bangsawan Madura di sana. Sedangkan putra ketiga,
Ario Pucuk, mempersunting Nyai Ageng Budho dan akhirnya menggantikan mertuanya
sebagai Kamituwa di Madeggan, meneruskan garis kepemimpinan dengan wibawa.
Demikianlah
jejak awal Ario Menak Senoyo, yang hadir bukan hanya sebagai utusan, tetapi
juga sebagai pembuka jalan bagi terjalinnya ikatan darah, budaya, dan peradaban
antara Madura dan wilayah sekitarnya. Dari sinilah, berdiri kokoh fondasi yang
kelak menorehkan babad panjang sejarah Madura.
Dari
pernikahan agung Ario Pucuk dengan Nyai Ageng Budho, lahirlah garis keturunan
yang kelak menjadi sendi penting dalam sejarah pemerintahan di Madura. Ario
Pucuk, yang menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Kamituwa Madeggan, bukan
sekadar pemimpin wilayah, melainkan juga penjaga adat dan penata tatanan
kehidupan masyarakat.
Karisma
Ario Pucuk berpadu dengan kebijaksanaan Nyai Ageng Budho, menjadikan keduanya
dihormati sebagai pasangan bangsawan yang berwibawa. Dari rahim Nyai Ageng
Budho, lahir putra-putra yang kemudian menurunkan silsilah besar para penguasa
Madura. Mereka bukan hanya mewarisi darah biru, tetapi juga jiwa kepemimpinan,
kecakapan diplomasi, dan semangat menjaga marwah tanah leluhur.
Dari
garis inilah kelak mengalir keturunan yang melahirkan tokoh-tokoh besar Madura,
termasuk penguasa yang disegani di Bangkalan, Sampang, hingga Sumenep. Sejarah
mencatat bahwa Ario Pucuk menjadi simpul penyambung antara masa awal
pemerintahan lokal di Madura dengan lahirnya kerajaan-kerajaan Madura yang
lebih besar di kemudian hari.



0 komentar :
Posting Komentar