Rabu, 10 Juni 2020

MADURA BERSIMBAH DARAH


Expedisi penaklukan Madura oleh Mataram itu berlangsung dua kali.


  • PENYERANGAN PERTAMA PASUKAN MATARAM KE MADURA 
Pada tahun 1623 Raja Mataram beserta perangkatnya mulai mengadakan penyerangan ke Kerajaan Madura melalui Laut dipimpin oleh Adipati Honggodipo dari Jepara sedangkan Penyerangan melalui darat dipimpin oleh Pangeran Selarong, adapun yang menjadi Panglima perang pada saat itu adalah Pangeran Sujonopuro. Dan pimpinan-pimpinan yang lain adalah Tumenggung Alap-alap dan Pangeran Ketawang.

Sementara yang berkuasa di Kerajaan-Kerajaan Madura pada saat itu adalah :

• Yang bertahta di Kraton Plakaran adalah Pangeran Mas.

• Yang bertahta di Kraton Blega adalah Pengeran Blega

• Yang memimpin Kraton Madeggan adalah Pangeran Mertosari

• Yang Berkuasa di Kraton Mandilaras adalah Pangeran Purboyo

• Yang Berkuasa di Kraton Sumenep adalah Pangeran Cokronegoro I

Ketenangan rakyat Madura terusik oleh serangan raja Mataram ini. Tak disangka-sangka, tiba-tiba datanglah pasukan Mataram mendarat di Pelabuhan Arosbaya dan Labang. Karena tidak ada berita sebelumnya, Pasukan Mataram berhasil memukul Mundur Pasukan Arosbaya pada awalnya, Mendengar Arosbaya berada dalam ancaman, datanglah pasukan Blega membantu Pasukan Arosbaya menyerang dari arah selatan, pertempuran sengit pun terjadi, pasukan Arosbaya bersama dengan Pasukan Pangeran Blega melawan dengan taktik perang yang jitu, Pasukan Mataram tercerai berai dan Pasukan Madura berhasil menewasikan enam belas pembesar Mataram termasuk panglima perangnya. Pangeran Sujonopuro tewas dalam pertempuran sengit tersebut, pasukan Mataram pun lari terbirit-birit naik keatas kapal mereka masing-masing, dan kapal pun terkatung-katung dilaut kembali ke Mataram dengan membawa mayat-mayat yang tewas dimedan laga.


  • PENYERANGAN KEDUA PASUKAN MATARAM KE MADURA

Melihat pasukannya tercerai-berai dan pulang membawa kekalahan, betapa murkanya Sultan Agung. Seleranya padam, gemeretak giginya menunjukkan luapan amarah yang amat memuncak, beliau bertekad menebus kekalahan itu.
Tiada beberapa lama kemudian Sultan Agung menugaskan Ki Jurukitting, gurunya sendiri memimpin bala tentara guna menyerang kembali Plakaran dan seluruh Madura.
Ki Jurukitting adalah ulama' besar Mataram yang memiliki kharisma dan ilmunya tinggi serta pandangannya luas, walaupun usianya telah lanjut tapi semangatnya sangat tinggi.
Pada awal tahun 1624 M pasukan besar Mataram diberangkatkan menuju Madura melalui laut. Siasat dan taktik perang pun disusun sedemikian rupa dan pola penyerangan pun diubah. Jika sebelumnya menyatu menuju perairan Arosbaya dan dari perairan Labang, dalam penyerangan kali ini pasukan Mataram dipecah menuju beberapa pelabuhan diseluruh Madura dan penyerangan dilakukan secara serentak pada hari dan detik yang telah ditentukan.

Entah kenapa rencana penyerangan kedua ini bocor, sebelum tentara Mataram menginjakkan kaki di tanah Madura, raja-raja Madura telah menyiapkan pasukan tempurnya juga guna menyambut pasukan perang Mataram tersebut. Adapun pasukan Madura terbagi sebagai berikut :
1. Pasukan Plakaran dipimpin oleh Pangeran Mas
2. Pasukan Blega dipimpin oleh Pangeran Blega
3. Pasukan Sampang dipimpin oleh Pangeran Mertosari
4. Pasukan Mandilaras dipimpin oleh Pangeran Purbaya dan Pangeran Jimat
5. Pasukan Sumenep dipimpin oleh Pangeran Cokronegoro I.

Setelah tiba di Madura, pasukan Mataram menyebar dan mengadakan serangan serentak tersebut membingungkan raja-raja Madura, serangan itu muncul menuju sasaran Plakaran, Blega, Madeggan, Mandilaras dan Sumenep. Semula raja-raja Madura memperhitungkan akan menghadapi bersama apabila menyerang satu medan tempur, ternyata mereka mendapatkan serangan masing-masing sehingga perang terjadi diwilayah masing-masing dalam waktu yang bersamaaan.

Akibatnya banyak sekali korban berjatuhan dikedua belah pihak, baik dari pasukan Mataram sendiri maupun dari pasukan raja-raja Madura. Mengingat kekuatan yang tidak seimbang, pertahanan raja-raja Madura pun dapat dipatahkan oleh pasukan Mataram. Pangeran Mas pun akhirnya dihukum mati oleh Sultan Agung. Perlawanan pangeran Blega pun mengalami nasib tragis, pasukan Mataram membabi buta mematahkan pasukan Blega yang mempunyai kekuatan kurang sepadan, Pangeran Blega pun tertangkap dan tanpa diberi ampun langsung dibunuh di Jurang Jero.

Demikian juga pertempuran hebat pun terjadi di Sampang, Pangeran Mertosari dengan segera menghunus pedang, mencincang setiap yang menyerang Sampang demi menyelamatkan Madura dan wilayah kekuasaannya dari cengkeraman kekajaman Pasukan Mataram. Keperkasaan dan jiwa kepahlawanan beliau luar biasa, namun apa hendak dikata, pangeran Mertosari beserta pasukannya mengalami nasib yang sama, seperti Plakaran dan Blega, kemahiran taktik perang dan fasilitas serta sarana perang yang dibawah pasukan musuh baik kwalitas maupun kwantitasnya mustahil untuk mengatasi pertempuran karenanya mengakibatkan kekalahan, Pangeran Mertosari gugur dan darahnya beserta darah pasukannya tumpah di medan laga gugur digelanggang pertempuran sebagai ksatria pahlawan Madura, demi wilayah dan rakyatnya. Beliau disarekan di Kampung Takobuh - Karangdalam Sampang. (Makam ini sudah tidak sesuai dari segi kepurbakalaan saat ini)
Sementara itu Keberingasan pasukan Mataram tidak jauh berbeda dalam menghadapi pasukan Mandilaras, pangeran Purbaya sebagai Panglima perang didampingi oleh adiknya pangeran Jimat, juga ramanda beliau Gusti Panembahan Ronggosukowati yang sudah berusia lanjut namun masih memiliki semangat juang tinggi yang sangat dikagumi kawan maupun lawan demi mempertahankan tanah dan wilayah yang menjadi haknya yang sah. Sungguh keberanian yang sangat hebat tak gentar menghadapi musuh yang jauh lebih besar dan terlatih, sungguh luhur itikad dan tekad beliau demi kemerdekaan Mandilaras untuk mempertahankan diri dari cengkeraman musuh. Pertempuran di Pamekasan ini terkenal dengan perang puputan. Mendengar Plakaran, Blega dan Madeggan telah jatuh dan kalah, maka dengan tegas Pangeran Purbaya memerintahkan kepada seluruh pembesar kraton dan rakyatnya baik laki-laki maupun perempuan untuk ikut serta berperang dimedan laga, bertempur mati-matian, pantang menyerah hingga titik darah penghabisan, pakaian pun diganti dengan pakaian putih-putih sebagai salah satu pertanda bahwa sudah siap dengan kain kafan masing-masing.
Seruan itu mendapatkan tanggapan positif dari segenap kalangan, dengan semangat percaya diri, barisan laki-laki di garis terdepan, dan kaum perempuan digaris belakang, satu dengan yang lain sepakat bahwa jika ada yang mencoba melarikan diri dan luka terdapat dibelakang mereka, maka barisan belakang harus membabat hingga tewas. Ultimatum itu dijunjung dan dilaksanakan dengan disiplin tinggi, sehingga pertarungan pasukan Mataram melawan pasukan Mandilaras benar-benar dahsyat.

Betapapun besar keberanian mereka, betapapun tinggi rasa percaya diri mereka, kekuatan musuh jauh lebih unggul, akhirnya menderita kekalahan tapi tidak begitu kecewa, syahid dalam mempertahankan hak dan wilayahnya dari tangan-tangan yang tidak berhak, tidak mati konyol, banyak menelan korban pula dari Pihak Mataram, mereka gugur dengan ksatria sebagai kusuma bangsa, pembela hak nusa dan bangsa wilayah kerajaan Mandilaras.
Demikian pula Pangeran Cokronegoro I yang memimpin pasukan Sumenep mengalami kekalahan, pasukan Sumenep kalang-kabut menghadapinya, Pangeran Cokronegoro I menyelamatkan diri dari keberingasan pasukan Mataram, beliau berencana mengungsi ke Demak dengan maksud meminta perlindungan kepada Demak. Mengiringi perjalanan menuju Demak antara lain R. Buggan, Pangeran Lor II (menantu Pangeran Cokronegoro I) beserta para punggawanya. Tapi sungguh malang nasib mereka, setiba di Sampang dihadang oleh Pasukan Mataram dan tanpa ampun sebagian besar dibunuh dan sebagian lagi lari bersembunyi. Pangeran Cokronegoro I (R. Abdullah) akhirnya tewas dan dimakamkan di Desa Plakaran Kec. Torjun, sedangkan Pangeran Lor II (R. Rajasa) dimakamkan di Banyuanyar Sampang. Sedangkan R. Buggan dapat diungsikan ke Cirebon sesuai wasiat Pangeran Cokronegoro I, dan diterima dengan baik oleh Sultan Cirebon.

Darah para raja, para panglima, para ksatria, beribu-ribu rakyat dan para ulama' juga didalamnya pada saat itu tumpah ruah membasahi tanah Madura tercinta demi membela wilayahnya dari cengkeraman raja pasukan asing, raja yang menggunakan pendekatan perang dalam mempersatukan. Mayat-mayat bergelimpangan dimedan tempur menghadapi ambisi kekuasaan absolut, ingin bertengger diatas singgasana kebesarannya sementara orang lain bertekuk lutut dibawah duli keangkuhannya. Akibat tindakan membabi butanya tiada lagi sifat kemanusiaan pada saat itu, terutama bagi Kerajaan Mandilaras. Akhirnya dari lubuk hati kami yang paling dalam, kami seluruh rakyat Madura mengucapkan "SELAMAT JALAN PARA PAHLAWAN BESAR" yang telah gugur menghadapi kekejaman pasukan Mataram dalam Tragedi "MADURA BERSIMBAH DARAH". Sungguh mengerikan.


Source : KZF, Riwayat Madura

2 comments :

Unknown mengatakan...

Ini adalah salah satu pengetahuan yang selama ini banyak sekali dari kalangan orng orng madura bahan para priai yang melupakan sejarah kakek buyutnya yng memperjuangkan tanah masura. Terimah kasih gan semoga bermanfaat dan menambah wawasan pengetahuan bagi kita semua, jangan menyerah dan teruslah berkarya juga gali informasi informasi lainnya tetang leluhur madura.

Mas Agus L - Madura mengatakan...

Silakan follow Blog sederhana ini yang dibuat untuk menghadirkan sejarah sesuai dengan perjalanan sebenarnya, bukan cerita atau dongeng sebelum tidur. Heee

Posting Komentar