Sabtu, 07 Februari 2026

Jejak Pangeran Cakraningrat IV - Sambilangan

  


 
Jejak Pangeran Cakraningrat IV

Jejak Pangeran Cakraningrat IV pada pertengahan abad ke-18 merupakan salah satu episode paling dramatis dalam sejarah Madura dan hubungan kekuasaan Nusantara dengan bangsa Eropa. Informasi ini terekam dalam dokumen sidang di Batavia tanggal 26–27 Juli 1746, khususnya pada tanya jawab nomor 42 hingga 51, yang merinci perjalanan, harta, hingga penangkapan beliau secara terperinci.

Rombongan Pangeran Cakraningrat IV menyeberang menggunakan beberapa kapal dan perahu. Di antara armada tersebut terdapat sebuah kapal tipe Chialoup milik EIC (English East India Company)—sebuah petunjuk kuat bahwa pelarian ini telah terhubung dengan jaringan Inggris. Bersama beliau turut dibawa kekayaan dalam jumlah luar biasa: 70.000 mat Spanyol, 1 pikul emas (setara 60,5 kg), setengah pikul perak, berlian hijau, lima berlian besar, seribu giwang berlian milik sang puteri, enam cincin (tiga di antaranya bertahtakan berlian), emas para istri, perhiasan, uang, permata, peti pakaian mewah, kantong obat milik istri-istri beliau, dua tempat tidur bayi, dua liontin milik istri (satu bertahtakan berlian), bahkan emas senilai 400 real. Di tengah rombongan yang sarat kemewahan itu, terdapat pula sesuatu yang unik: 25 anak kucing turut dibawa dalam perjalanan panjang tersebut.

Pelarian dimulai dengan rute pertama menuju Bawean. Dari sana, rombongan bergerak ke rute kedua: Bawean menuju Sungai Bentaw, wilayah yang telah berada di bawah Kesultanan Banjar. Kedatangan mereka disambut langsung oleh utusan Sultan Banjar dengan sebuah tanda penghormatan sekaligus penerimaan politik. Rute ketiga berlanjut dari Sungai Bentaw ke Sungai Banjar hingga tiba di Kota Banjar. Kapal Chialoup Inggris ditinggalkan di sungai itu, sementara rombongan Pangeran langsung menuju istana Banjar.

Namun ketenangan itu hanya berlangsung singkat. Enam atau tujuh hari setelah beliau tiba di Banjar, sebuah kapal perang VOC tipe Brigantin datang menyusul. Orang-orang Belanda segera menghubungi gezaghebber setempat dan Sultan Banjar untuk meminta agar Pangeran diserahkan kepada VOC. Bahkan upaya suap sebesar 2.000 mat Spanyol dilayangkan kepada gezaghebber, namun ditolak tegas. Sultan Banjar pun menolak permintaan tersebut dan memerintahkan Brigantin VOC untuk berlayar kembali ke Batavia.

Penolakan itu dibalas dengan kekerasan. Brigantin VOC melancarkan serangan ganas ke Sungai Banjar dengan tembakan meriam. Dalam situasi genting, rombongan Pangeran sempat direncanakan untuk diungsikan ke pegunungan Banjar. Namun Pangeran Cakraningrat IV memilih jalur laut yang kemungkinan untuk melakukan konsolidasi dengan pihak Inggris atau dengan puteranya yang berada di Bengkulu. Rombongan beliau pun dipindahkan dan dilindungi di kapal Inggris terbaik saat itu, sebuah kapal East Indiaman bernama Onslow.

Onslow adalah kapal besar dagang bersenjata milik EIC yang aktif antara tahun 1734 hingga 1748, dipimpin oleh Colonel William Congreve (1699–1779), seorang perwira angkatan laut Inggris yang telah kehilangan tangan kirinya dalam sebuah pertempuran. Kapal inilah yang menjadi perlindungan terakhir Pangeran di Banjarmasin.

Namun perlindungan itu kembali ditembus VOC. Empat hingga lima hari setelah rombongan berlindung di Onslow, Brigantin VOC melancarkan serangan langsung ke kapal Inggris tersebut. Dalam baku tembak yang terjadi, salah satu istri Pangeran tertembak senapan. Pertempuran itu berakhir tragis: rombongan Pangeran Cakraningrat IV berhasil ditangkap dan dibawa paksa oleh kapal Brigantin VOC. Kapten Onslow, William Congreve, turut terluka dan sempat ditangkap oleh pihak Belanda dalam aksi penculikan yang melanggar kehormatan diplomatik tersebut.

Peristiwa ini bukan hanya menggambarkan pelarian seorang bangsawan Madura, tetapi juga memperlihatkan benturan kepentingan antara VOC, Kesultanan Banjar, dan EIC—sebuah drama geopolitik yang menjadikan Sungai Banjar dan kapal Onslow sebagai saksi bisu dari runtuhnya perlindungan terakhir Pangeran Cakraningrat IV.

 

 

 

 

 

 

Source   : Riwayat Madura 

Ario Lembu Petteng

 

 

ARIO LEMBU PETTENG

Pada tahun 1391, di tanah Madeggan Sampang, berdirilah seorang bangsawan perkasa bernama Ario Lembu Peteng. Beliau ditempatkan sebagai Patih Mandiri, atau dikenal pula dengan sebutan Rangga atau Kamituwo, pemegang kendali atas Pamadeggan. Ibundanya adalah Ratu Dwarawati, seorang permaisuri agung yang wafat pada tahun 1448.

Ario Lembu Peteng tercatat sebagai salah satu tokoh penting yang menjembatani masa peralihan kekuasaan lama menuju babak baru sejarah Madura. Di penghujung hayatnya, beliau singgah ke Ampel, tempat kediaman Sunan Ampel, wali agung penyebar Islam di Jawa. Di sanalah beliau memeluk agama Islam dengan bimbingan sang Sunan, hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di sana—sebuah penanda bahwa darah bangsawan Madura pun ikut tersentuh cahaya Islam.

Dari garis keturunannya, lahirlah tiga putra-putri utama:

  1. Ario Menger,
  2. Ario Mengo, dan
  3. Retno Dewi, yang menikah dengan Sunan Dalem (Maulana Agung) dan kemudian menetap di Giri Kedaton, pusat kebesaran Islam di Gresik.

Dari ketiga keturunan itu, nama Ario Menger tampil sebagai penerus pemerintahan Pamadeggan menggantikan ayahandanya. Dari dialah kemudian lahir generasi yang mengokohkan fondasi Islam dan pemerintahan di tanah Sampang.

Putra-putranya antara lain:

  • Ario Langgar, yang berikrar masuk Islam dan mendirikan sebuah langgar di Madeggan—yang kelak menjadi masjid tertua di Sampang, simbol awal tumbuhnya syiar Islam di tanah Madura.
  • Ario Panengah, yang memilih bermukim di Rangantang, membawa pengaruh kebangsawanan ke wilayah itu.
  • Ario Pratikel, yang bermukim di Pulau Mandangil (Pulau Kambing), menjaga dan mengatur kehidupan masyarakat di pulau kecil tersebut.

Dengan demikian, dari Ario Lembu Peteng mengalir dua warisan besar: kebangsawanan dan keislaman. Satu sisi beliau teguh sebagai penguasa Madeggan sejak 1391, dan di sisi lain, wafatnya di Ampel serta masuk Islamnya para keturunannya menjadi tonggak penting yang mempertautkan Madura dengan pusat-pusat penyebaran Islam di Jawa.

Perjalanan hidupnya tidak berhenti pada urusan duniawi semata. Di masa tuanya, Lembu Peteng menempuh jalan spiritual yang mengubah arah sejarah. Ia mendatangi pusat dakwah di Ampel, Surabaya, dan berguru langsung kepada Sunan Ampel, salah satu Wali Songo. Di bawah bimbingan sang wali, ia akhirnya memeluk agama Islam—sebuah keputusan yang bukan hanya menyentuh dirinya secara pribadi, tetapi juga memberi warna baru bagi garis keturunannya dan masyarakat Madura pada umumnya.

Tak lama setelah itu, Ario Lembu Peteng wafat di Ampel. Beliau dimakamkan di kawasan dakwah Sunan Ampel, sehingga jejak kehidupannya terpatri dalam dua dunia: sebagai pelopor pemerintahan di tanah Madura, dan sebagai tokoh yang turut membuka jalan Islamisasi di kawasan tersebut.

Dari sinilah, nama Ario Lembu Peteng dikenang bukan hanya sebagai seorang bangsawan, tetapi juga sebagai penghubung antara tradisi kebangsawanan lama dan cahaya Islam yang mulai menyinari Madura.

Jejak Ario Lembu Peteng dan anak-cucunya adalah bukti bahwa sejak abad ke-14, Madura telah menjadi tanah yang terbuka bagi persilangan budaya, politik, dan agama, hingga akhirnya melahirkan dinasti-dinasti besar yang mewarnai perjalanan sejarah Nusantara.

 

 

 

Source : Babad Sampang