Sabtu, 07 Februari 2026

Ario Lembu Petteng

 

 

ARIO LEMBU PETTENG

Pada tahun 1391, di tanah Madeggan Sampang, berdirilah seorang bangsawan perkasa bernama Ario Lembu Peteng. Beliau ditempatkan sebagai Patih Mandiri, atau dikenal pula dengan sebutan Rangga atau Kamituwo, pemegang kendali atas Pamadeggan. Ibundanya adalah Ratu Dwarawati, seorang permaisuri agung yang wafat pada tahun 1448.

Ario Lembu Peteng tercatat sebagai salah satu tokoh penting yang menjembatani masa peralihan kekuasaan lama menuju babak baru sejarah Madura. Di penghujung hayatnya, beliau singgah ke Ampel, tempat kediaman Sunan Ampel, wali agung penyebar Islam di Jawa. Di sanalah beliau memeluk agama Islam dengan bimbingan sang Sunan, hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di sana—sebuah penanda bahwa darah bangsawan Madura pun ikut tersentuh cahaya Islam.

Dari garis keturunannya, lahirlah tiga putra-putri utama:

  1. Ario Menger,
  2. Ario Mengo, dan
  3. Retno Dewi, yang menikah dengan Sunan Dalem (Maulana Agung) dan kemudian menetap di Giri Kedaton, pusat kebesaran Islam di Gresik.

Dari ketiga keturunan itu, nama Ario Menger tampil sebagai penerus pemerintahan Pamadeggan menggantikan ayahandanya. Dari dialah kemudian lahir generasi yang mengokohkan fondasi Islam dan pemerintahan di tanah Sampang.

Putra-putranya antara lain:

  • Ario Langgar, yang berikrar masuk Islam dan mendirikan sebuah langgar di Madeggan—yang kelak menjadi masjid tertua di Sampang, simbol awal tumbuhnya syiar Islam di tanah Madura.
  • Ario Panengah, yang memilih bermukim di Rangantang, membawa pengaruh kebangsawanan ke wilayah itu.
  • Ario Pratikel, yang bermukim di Pulau Mandangil (Pulau Kambing), menjaga dan mengatur kehidupan masyarakat di pulau kecil tersebut.

Dengan demikian, dari Ario Lembu Peteng mengalir dua warisan besar: kebangsawanan dan keislaman. Satu sisi beliau teguh sebagai penguasa Madeggan sejak 1391, dan di sisi lain, wafatnya di Ampel serta masuk Islamnya para keturunannya menjadi tonggak penting yang mempertautkan Madura dengan pusat-pusat penyebaran Islam di Jawa.

Perjalanan hidupnya tidak berhenti pada urusan duniawi semata. Di masa tuanya, Lembu Peteng menempuh jalan spiritual yang mengubah arah sejarah. Ia mendatangi pusat dakwah di Ampel, Surabaya, dan berguru langsung kepada Sunan Ampel, salah satu Wali Songo. Di bawah bimbingan sang wali, ia akhirnya memeluk agama Islam—sebuah keputusan yang bukan hanya menyentuh dirinya secara pribadi, tetapi juga memberi warna baru bagi garis keturunannya dan masyarakat Madura pada umumnya.

Tak lama setelah itu, Ario Lembu Peteng wafat di Ampel. Beliau dimakamkan di kawasan dakwah Sunan Ampel, sehingga jejak kehidupannya terpatri dalam dua dunia: sebagai pelopor pemerintahan di tanah Madura, dan sebagai tokoh yang turut membuka jalan Islamisasi di kawasan tersebut.

Dari sinilah, nama Ario Lembu Peteng dikenang bukan hanya sebagai seorang bangsawan, tetapi juga sebagai penghubung antara tradisi kebangsawanan lama dan cahaya Islam yang mulai menyinari Madura.

Jejak Ario Lembu Peteng dan anak-cucunya adalah bukti bahwa sejak abad ke-14, Madura telah menjadi tanah yang terbuka bagi persilangan budaya, politik, dan agama, hingga akhirnya melahirkan dinasti-dinasti besar yang mewarnai perjalanan sejarah Nusantara.

 

 

 

Source : Babad Sampang 

Minggu, 01 Februari 2026

Manuscript Kraton Sambilangan

 

Raden Muhammad Zen 

Raden Muhammad Zen, bergelar Raden Arya Suryadiningrat, lahir pada tahun 1771 M, pada masa ketika Bangkahulu berada di bawah perlindungan Kompeni Inggris. Masa hidupnya berlangsung dalam periode transisi politik kolonial yang penting di pantai barat Sumatra, dari dominasi Inggris menuju kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda. Ia wafat pada tahun 1853 M, saat Bangkahulu sepenuhnya berada di bawah administrasi Belanda, menandai akhir pengabdian seorang elite lokal yang memainkan peran strategis dalam dua rezim kolonial berbeda.

Pada tahun 1812, Raden Muhammad Zen melakukan perjalanan ke Madura, tepatnya ke Sembilangan, untuk berziarah sekaligus menjalin kembali silaturahmi dengan seluruh kaum familinya. Perjalanan ini memiliki makna genealogis dan politis yang penting. Pada saat itu ia telah berpangkat opsir militer, dan dari Sembilangan ia membawa pulang sejumlah manuskrip silsilah keturunan Raja-raja Madura. Manuskrip tersebut kemudian menjadi rujukan utama asal-usul keturunan Raden di Bangkahulu, serta berfungsi sebagai legitimasi sosial dan simbol kesinambungan status kebangsawanan di wilayah tersebut.

Pada tahun 1818, Raden Muhammad Zen diangkat sebagai opsir Bugis Bompang oleh Pemerintahan Inggris. Dalam periode yang sama, ia dipindahkan ke Lais dan dipercaya menjabat sebagai wakil Kompeni di Afdeling Lais, sekaligus bertindak sebagai Hoofd di Lais pada masa pemerintahan Inggris. Jabatan ini menempatkannya sebagai perantara penting antara otoritas kolonial dan struktur kekuasaan lokal, suatu posisi yang lazim diberikan kepada elite pribumi yang dianggap loyal dan memiliki pengaruh sosial yang kuat.

Perubahan mendasar terjadi pada tahun 1825, ketika wilayah Bangkahulu diserahkan oleh Inggris kepada Pemerintahan Belanda. Setahun kemudian, yakni pada tahun 1826, dikeluarkan besluit dari Pemerintahan Belanda yang menetapkan Raden Muhammad Zen sebagai wakil tuan besar untuk memerintah di Afdeling Lais. Dalam keputusan tersebut ditegaskan bahwa seluruh penduduk negeri wajib memberikan penghormatan kepadanya sebagaimana tata kehormatan yang berlaku pada masa Inggris. Pada masa ini pula diberlakukan berbagai aturan pertanian dan sistem tanam, yang mencerminkan penyesuaian kebijakan kolonial Belanda terhadap struktur pemerintahan lokal yang telah terbentuk sebelumnya.

Makam R. M. Zein

Puncak karier administratif dan militernya dicapai pada tahun 1835, ketika Raden Muhammad Zen diangkat sebagai Kapten Handrabel dari seluruh militer di dalam Residen Bangkahulu, serta menjabat sebagai Hoofd Fermendilingen di Bangkahulu, menggantikan Tuan Daeng Mabela. Dalam kedudukannya tersebut, ia mendirikan pusat kekuasaan yang dikenal sebagai Istana Karang Kunsan, yang kemudian berganti nama menjadi Istana Kembang Melur. Istana ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai simbol otoritas, pusat administrasi, dan representasi peran elite lokal dalam sistem pemerintahan kolonial.

Pada tahun 1853, Raden Muhammad Zen wafat di Istana Kembang Melur, dalam masa menjalankan tugas pemerintahan. Dengan wafatnya tokoh ini, berakhir pula perjalanan hidup seorang bangsawan dan pejabat kolonial yang berperan penting dalam sejarah Bangkahulu, khususnya dalam proses transisi kekuasaan dari Inggris ke Belanda, serta dalam pembentukan tradisi genealogis dan struktur elite lokal yang pengaruhnya bertahan hingga generasi berikutnya,

 

Source :Manuscript Sembilangan