ARIO LEMBU PETTENG
Pada tahun 1391, di tanah Madeggan Sampang, berdirilah seorang bangsawan perkasa bernama Ario Lembu Peteng. Beliau ditempatkan sebagai Patih Mandiri, atau dikenal pula dengan sebutan Rangga atau Kamituwo, pemegang kendali atas Pamadeggan. Ibundanya adalah Ratu Dwarawati, seorang permaisuri agung yang wafat pada tahun 1448.
Ario Lembu Peteng tercatat sebagai salah satu tokoh penting yang menjembatani masa peralihan kekuasaan lama menuju babak baru sejarah Madura. Di penghujung hayatnya, beliau singgah ke Ampel, tempat kediaman Sunan Ampel, wali agung penyebar Islam di Jawa. Di sanalah beliau memeluk agama Islam dengan bimbingan sang Sunan, hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di sana—sebuah penanda bahwa darah bangsawan Madura pun ikut tersentuh cahaya Islam.
Dari garis keturunannya, lahirlah tiga putra-putri utama:
- Ario Menger,
- Ario Mengo, dan
- Retno Dewi, yang menikah dengan Sunan Dalem (Maulana Agung) dan kemudian menetap di Giri Kedaton, pusat kebesaran Islam di Gresik.
Dari ketiga keturunan itu, nama Ario Menger tampil sebagai penerus pemerintahan Pamadeggan menggantikan ayahandanya. Dari dialah kemudian lahir generasi yang mengokohkan fondasi Islam dan pemerintahan di tanah Sampang.
Putra-putranya antara lain:
- Ario Langgar, yang berikrar masuk Islam dan mendirikan sebuah langgar di Madeggan—yang kelak menjadi masjid tertua di Sampang, simbol awal tumbuhnya syiar Islam di tanah Madura.
- Ario Panengah, yang memilih bermukim di Rangantang, membawa pengaruh kebangsawanan ke wilayah itu.
- Ario Pratikel, yang bermukim di Pulau Mandangil (Pulau Kambing), menjaga dan mengatur kehidupan masyarakat di pulau kecil tersebut.
Dengan demikian, dari Ario Lembu Peteng mengalir dua warisan besar: kebangsawanan dan keislaman. Satu sisi beliau teguh sebagai penguasa Madeggan sejak 1391, dan di sisi lain, wafatnya di Ampel serta masuk Islamnya para keturunannya menjadi tonggak penting yang mempertautkan Madura dengan pusat-pusat penyebaran Islam di Jawa.
Perjalanan hidupnya tidak berhenti pada urusan duniawi semata. Di masa tuanya, Lembu Peteng menempuh jalan spiritual yang mengubah arah sejarah. Ia mendatangi pusat dakwah di Ampel, Surabaya, dan berguru langsung kepada Sunan Ampel, salah satu Wali Songo. Di bawah bimbingan sang wali, ia akhirnya memeluk agama Islam—sebuah keputusan yang bukan hanya menyentuh dirinya secara pribadi, tetapi juga memberi warna baru bagi garis keturunannya dan masyarakat Madura pada umumnya.
Tak lama setelah itu, Ario Lembu Peteng wafat di Ampel. Beliau dimakamkan di kawasan dakwah Sunan Ampel, sehingga jejak kehidupannya terpatri dalam dua dunia: sebagai pelopor pemerintahan di tanah Madura, dan sebagai tokoh yang turut membuka jalan Islamisasi di kawasan tersebut.
Dari sinilah, nama Ario Lembu Peteng dikenang bukan hanya sebagai seorang bangsawan, tetapi juga sebagai penghubung antara tradisi kebangsawanan lama dan cahaya Islam yang mulai menyinari Madura.
Jejak Ario Lembu Peteng dan anak-cucunya adalah bukti bahwa sejak abad ke-14, Madura telah menjadi tanah yang terbuka bagi persilangan budaya, politik, dan agama, hingga akhirnya melahirkan dinasti-dinasti besar yang mewarnai perjalanan sejarah Nusantara.
Source : Babad Sampang



